Kerajaan Aceh Darussalam berdiri
menjelang keruntuhan Samudera Pasai. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, pada
tahun 1360 M, Samudera Pasai ditaklukkan oleh Majaphit, dan sejak saat itu,
kerajaan Pasai terus mengalami kemudunduran. Diperkirakan, menjelang
berakhirnya abad ke-14 M, kerajaan Aceh Darussalam telah berdiri dengan
penguasa pertama Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada Ahad, 1 Jumadil
Awal 913 H (1511 M) . Pada tahun 1524 M, Mughayat Syah berhasil menaklukkan
Pasai, dan sejak saat itu, menjadi satu-satunya kerajaan yang memiliki pengaruh
besar di kawasan tersebut. Bisa dikatakan bahwa, sebenarnya kerajaan Aceh ini
merupakan kelanjutan dari Samudera Pasai untuk membangkitkan dan meraih kembali
kegemilangan kebudayaan Aceh yang pernah dicapai sebelumnya.
Pada awalnya, wilayah kerajaan Aceh ini hanya mencakup Banda Aceh dan Aceh
Besar yang dipimpin oleh ayah Ali Mughayat Syah. Ketika Mughayat Syah naih
tahta menggantikan ayahnya, ia berhasil memperkuat kekuatan dan mempersatukan
wilayah Aceh dalam kekuasaannya, termasuk menaklukkan kerajaan Pasai. Saat itu,
sekitar tahun 1511 M, kerajaan-kerajaan kecil yang terdapat di Aceh dan pesisir
timur Sumatera seperti Peurelak (di Aceh Timur), Pedir (di Pidie), Daya (Aceh
Barat Daya) dan Aru (di Sumatera Utara) sudah berada di bawah pengaruh kolonial
Portugis. Mughayat Syah dikenal sangat anti pada Portugis, karena itu, untuk
menghambat pengaruh Portugis, kerajaan-kerajaan kecil tersebut kemudian ia taklukkan
dan masukkan ke dalam wilayah kerajaannya. Sejak saat itu, kerajaan Aceh lebih
dikenal dengan nama Aceh Darussalam dengan wilayah yang luas, hasil dari
penaklukan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya.
Sejarah mencatat bahwa, usaha Mughayat Syah untuk mengusir Portugis dari
seluruh bumi Aceh dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil yang sudah berada
di bawah Portugis berjalan lancar. Secara berurutan, Portugis yang berada di
daerah Daya ia gempur dan berhasil ia kalahkan. Ketika Portugis mundur ke
Pidie, Mughayat juga menggempur Pidie, sehingga Portugis terpaksa mundur ke
Pasai. Mughayat kemudian melanjutkan gempurannya dan berhasil merebut benteng
Portugis di Pasai.
Kemenangan yang berturut-turut ini membawa keuntungan yang luar biasa,
terutama dari aspek persenjataan. Portugis yang kewalahan menghadapi serangan
Aceh banyak meninggalkan persenjataan, karena memang tidak sempat mereka bawa
dalam gerak mundur pasukan. Senjata-senjata inilah yang digunakan kembali oleh
pasukan Mughayat untuk menggempur Portugis.
Ketika benteng di Pasai telah dikuasai Aceh, Portugis mundur ke Peurelak.
Namun, Mughayat Syah tidak memberikan kesempatan sama sekali pada Portugis.
Peurelak kemudian juga diserang, sehingga Portugis mundur ke Aru. Tak berapa
lama, Aru juga berhasil direbut oleh Aceh hingga akhirnya Portugis mundur ke
Malaka. Dengan kekuatan besar, Aceh kemudian melanjutkan serangan untuk
mengejar Portugis ke Malaka dan Malaka berhasil direbut. Portugis melarikan
diri ke Goa, India. Seiring dengan itu, Aceh melanjutkan ekspansinya dengan
menaklukkan Johor, Pahang dan Pattani. Dengan keberhasilan serangan ini,
wilayah kerajaan Aceh Darussalam mencakup hampir separuh wilayah pulau
Sumatera, sebagian Semenanjung Malaya hingga Pattani.
Demikianlah, walaupun masa kepemimpinan Mughayat Syah relatif singkat,
hanya sampai tahun 1528 M, namun ia berhasil membangun kerajaan Aceh yang besar
dan kokoh. Ali Mughayat Syah juga meletakkan dasar-dasar politik luar negeri
kerajaan Aceh Darussalam, yaitu: (1) mencukupi kebutuhan sendiri, sehingga
tidak bergantung pada pihak luar; (2) menjalin persahabatan yang lebih erat
dengan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara; (3) bersikap waspada terhadap
negara kolonial Barat; (4) menerima bantuan tenaga ahli dari pihak luar; (5)
menjalankan dakwah Islam ke seluruh kawasan nusantara. Sepeninggal Mughayat
Syah, dasar-dasar kebijakan politik ini tetap dijalankan oleh penggantinya.
Dalam sejarahnya, Aceh Darussalam mencapai masa kejayaan di masa Sultan
Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1590-1636). Pada masa itu, Aceh
merupakan salah satu pusat perdagangan yang sangat ramai di Asia Tenggara.
Kerajaan Aceh pada masa itu juga memiliki hubungan diplomatik dengan dinasti
Usmani di Turki, Inggris dan Belanda. Pada masa Iskandar Muda, Aceh pernah
mengirim utusan ke Turki Usmani dengan membawa hadiah. Kunjungan ini diterima
oleh Khalifah Turki Usmani dan ia mengirim hadiah balasan berupa sebuah meriam
dan penasehat militer untuk membantu memperkuat angkatan perang Aceh.
Hubungan dengan Perancis juga terjalin dengan baik. Pada masa itu, Perancis
pernah mengirim utusannya ke Aceh dengan membawa hadiah sebuah cermin yang
sangat berharga. Namun, cermin ini ternyata pecah dalam perjalanan menuju Aceh.
Hadiah cermin ini tampaknya berkaitan dengan kegemaran Sultan Iskandar Muda
pada benda-benda berharga. Saat itu, Iskandar Muda merupakan satu-satunya raja
Melayu yang memiliki Balee Ceureumeen (Aula Kaca) di istananya yang megah,
Istana Dalam Darud Dunya. Konon, menurut utusan Perancis tersebut, luas istana
Aceh saat itu tak kurang dari dua kilometer. Di dalam istana tersebut, juga
terdapat ruang besar yang disebut Medan Khayali dan Medan Khaerani yang mampu
menampung 300 ekor pasukan gajah, dan aliran sungai Krueng yang telah
dipindahkan dari lokasi asal alirannya.
Sebelum Iskandar Muda berkuasa, sebenarnya juga telah terjalin hubungan
baik dengan Ratu Elizabeth I dan penggantinya, Raja James dari Inggris. Bahkan,
Ratu Elizabeth pernah mengirim utusannya, Sir James Lancaster dengan membawa
seperangkat perhiasan bernilai tinggi dan surat untuk meminta izin agar Inggris
diperbolehkan berlabuh dan berdagang di Aceh. Sultan Aceh menjawab positif
permintaan itu dan membalasnya dengan mengirim seperangkat hadiah, disertai
surat yang ditulis dengan tinta emas. Sir James Lancaster sebagai pembawa pesan
juga dianugerahi gelar Orang Kaya Putih sebagai penghormatan. Berikut ini
cuplikan surat Sulta Aceh pada Ratu Inggris bertarikh 1585 M:
I am the mighty ruler of the Regions below the wind, who holds sway over
the land of Aceh and over the land of Sumatra and over all the lands tributary
to Aceh, which stretch from the sunrise to the sunset.
(Hambalah Sang Penguasa Perkasa Negeri-negeri di bawah angin, yang
terhimpun di atas tanah Aceh, tanah Sumatera dan seluruh wilayah yang tunduk
kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari
terbenam).
Ketika Raja James berkuasa di Inggris, ia pernah mengirim sebuah meriam
sebagai hadiah kepada sultan Aceh. Hubungan ini memburuk pada abad ke 18,
karena nafsu imperialisme Inggris untuk menguasai kawasan Asia Tenggara. Selain
itu, Aceh juga pernah mengirim utusan yang dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid ke
Belanda, di masa kekuasaan Pangeran Maurits, pendiri dinasti Oranye. Dalam
kunjungan tersebut, Abdul Hamid meninggal dunia dan dimakamkan di pekarangan
sebuah gereja dengan penuh penghormatan, dihadiri oleh para pembesar Belanda.
Saat ini, di makam tersebut terdapat sebuah prasasti yang diresmikan oleh
Pangeran Bernhard, suami Ratu Juliana.
Ketika Iskandar Muda meninggal dunia tahun 1636 M, yang naik sebagai
penggantinya adalah Sultan Iskandar Thani Ala‘ al-Din Mughayat Syah
(1636-1641M). Di masa kekuasaan Iskandar Thani, Aceh masih berhasil
mempertahankan masa kejayaannya. Penerus berikutnya adalah Sri Ratu Safi al-Din
Taj al-Alam (1641-1675 M), putri Iskandar Muda dan permaisuri Iskandar Thani.
Hingga tahun 1699 M, Aceh secara berturut-turut dipimpin oleh empat orang ratu.
Di masa ini, kerajaan Aceh sudah mulai memasuki era kemundurannya. Salah satu
penyebabnya adalah terjadinya konflik internal di Aceh, yang disebabkan
penolakan para ulama Wujudiyah terhadap pemimpin perempuan. Para ulama
Wujudiyah saat itu berpandangan bahwa, hukum Islam tidak membolehkan seorang
perempuan menjadi pemimpin bagi laki-laki. Kemudian terjadi konspirasi antara
para hartawan dan uleebalang, dan dijustifikasi oleh pendapat para ulama yang
akhirnya berhasil memakzulkan Ratu Kamalat Syah. Sejak saat itu, berakhirlah
era sultanah di Aceh.
Memasuki paruh kedua abad ke-18, Aceh mulai terlibat konflik dengan Belanda
dan Inggris yang memuncak pada abad ke-19. Pada akhir abad ke-18 tersebut,
wilayah kekuasaan Aceh di Semenanjung Malaya, yaitu Kedah dan Pulau Pinang
dirampas oleh Inggris. Pada tahun 1871 M, Belanda mulai mengancam Aceh atas
restu dari Inggris, dan pada 26 Maret 1873 M, Belanda secara resmi menyatakan
perang terhadap Aceh. Dalam perang tersebut, Belanda gagal menaklukkan Aceh.
Pada tahun 1883, 1892 dan 1893 M, perang kembali meletus, namun, lagi-lagi
Belanda gagal merebaut Aceh. Pada saat itu, Belanda sebenarnya telah putus asa
untuk merebut Aceh, hingga akhirnya, Snouck Hurgronye, seorang sarjana dari
Universitas Leiden, menyarankan kepada pemerintahnya agar mengubah fokus
serangan, dari sultan ke ulama. Menurutnya, tulang punggung perlawanan rakyat
Aceh adalah para ulama, bukan sultan. Oleh sebab itu, untuk melumpuhkan
perlawanan rakyat Aceh, maka serangan harus diarahkan kepada para ulama. Saran
ini kemudian diikuti oleh pemerintah Belanda dengan menyerang basis-basis para
ulama, sehingga banyak masjid dan madrasah yang dibakar Belanda.
Saran Snouck Hurgronye membuahkan hasil: Belanda akhirnya sukses
menaklukkan Aceh. J.B. van Heutsz, sang panglima militer, kemudian diangkat
sebagai gubernur Aceh. Pada tahun 1903, kerajaan Aceh berakhir seiring dengan
menyerahnya Sultan M. Dawud kepada Belanda. Pada tahun 1904, hampir seluruh
Aceh telah direbut oleh Belanda. Walaupun demikian, sebenarnya Aceh tidak
pernah tunduk sepenuhnya pada Belanda. Perlawanan yang dipimpin oleh
tokoh-tokoh masyarakat tetap berlangsung. Sebagai catatan, selama perang Aceh,
Belanda telah kehilangan empat orang jenderalnya yaitu: Mayor Jenderal J.H.R
Kohler, Mayor Jenderal J.L.J.H. Pel, Demmeni dan Jenderal J.J.K. De Moulin.
Kekuasaan Belanda berlangsung hampir setengah abad, dan berakhir seiring dengan masuknya Jepang ke Aceh pada 9 Februari 1942. Saat itu, kekuatan militer Jepang mendarat di wilayah Ujong Batee, Aceh Besar. Kedatangan mereka disambut oleh tokoh-tokoh pejuang Aceh dan masyarakat umum. Hubungan baik dengan Jepang tidak berlangsung lama. Ketika Jepang mulai melakukan pelecehan terhadap perempuan Aceh dan memaksa masyarakat untuk membungkuk pada matahari terbit, maka, saat itu pula mulai timbul perlawanan. Di antara tokoh yang dikenal gigih melawan Jepang adalah Teungku Abdul Jalil. Kekuasaan para penjajah berakhir ketika Indonesia merdeka dan Aceh bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kekuasaan Belanda berlangsung hampir setengah abad, dan berakhir seiring dengan masuknya Jepang ke Aceh pada 9 Februari 1942. Saat itu, kekuatan militer Jepang mendarat di wilayah Ujong Batee, Aceh Besar. Kedatangan mereka disambut oleh tokoh-tokoh pejuang Aceh dan masyarakat umum. Hubungan baik dengan Jepang tidak berlangsung lama. Ketika Jepang mulai melakukan pelecehan terhadap perempuan Aceh dan memaksa masyarakat untuk membungkuk pada matahari terbit, maka, saat itu pula mulai timbul perlawanan. Di antara tokoh yang dikenal gigih melawan Jepang adalah Teungku Abdul Jalil. Kekuasaan para penjajah berakhir ketika Indonesia merdeka dan Aceh bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
2. Silsilah
Berikut ini daftar para sultan yang pernah berkuasa di kerajaan Aceh
Darussalam:
1. Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M)
2. Sultan Salahuddin (1528-1537).
3. Sultan Ala‘ al-Din al-Kahhar (1537-1568).
4. Sultan Husein Ali Riayat Syah (1568-1575)
5. Sultan Muda (1575)
6. Sultan Sri Alam (1575-1576).
7. Sultan Zain al-Abidin (1576-1577).
8. Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589)
9. Sultan Buyong (1589-1596)
10. Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604).
11. Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607)
12. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636).
13. Iskandar Thani (1636-1641).
14. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam/Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Shah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Shah(1641-1675).
15. Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam/Sultanah Nurul Alam Naqiyatuddin Syah (1675-1678)
16. Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah/Sultanah Zakiatuddin Inayat Syah(1678-1688)
17. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din/Sultanah Zinatuddin Kamalat Syah (1688-1699)
18. Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702)
19. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
20. Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)
21. Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)
22. Sultan Syams al-Alam (1726-1727)
23. Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735)
24. Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760)
25. Sultan Mahmud Syah (1760-1781)
26. Sultan Badr al-Din (1781-1785)
27. Sultan Sulaiman Syah (1785-…)
28. Alauddin Muhammad Daud Syah.
29. Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) dan (1818-1824)
30. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818)
31. Sultan Muhammad Syah (1824-1838)
32. Sultan Sulaiman Syah (1838-1857)
33. Sultan Mansur Syah (1857-1870)
34. Sultan Mahmud Syah (1870-1874)
35. Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903)
1. Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M)
2. Sultan Salahuddin (1528-1537).
3. Sultan Ala‘ al-Din al-Kahhar (1537-1568).
4. Sultan Husein Ali Riayat Syah (1568-1575)
5. Sultan Muda (1575)
6. Sultan Sri Alam (1575-1576).
7. Sultan Zain al-Abidin (1576-1577).
8. Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589)
9. Sultan Buyong (1589-1596)
10. Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604).
11. Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607)
12. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636).
13. Iskandar Thani (1636-1641).
14. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam/Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Shah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Shah(1641-1675).
15. Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam/Sultanah Nurul Alam Naqiyatuddin Syah (1675-1678)
16. Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah/Sultanah Zakiatuddin Inayat Syah(1678-1688)
17. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din/Sultanah Zinatuddin Kamalat Syah (1688-1699)
18. Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702)
19. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
20. Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)
21. Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)
22. Sultan Syams al-Alam (1726-1727)
23. Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735)
24. Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760)
25. Sultan Mahmud Syah (1760-1781)
26. Sultan Badr al-Din (1781-1785)
27. Sultan Sulaiman Syah (1785-…)
28. Alauddin Muhammad Daud Syah.
29. Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) dan (1818-1824)
30. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818)
31. Sultan Muhammad Syah (1824-1838)
32. Sultan Sulaiman Syah (1838-1857)
33. Sultan Mansur Syah (1857-1870)
34. Sultan Mahmud Syah (1870-1874)
35. Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903)
Catatan: Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (sultan ke-29) berkuasa pada dua
periode yang berbeda, diselingi oleh periode Sultan Syarif Saif al-Alam
(1815-1818).
3. Periode Pemerintahan
Kerajaan Aceh Darussalam berdiri sejak akhir abad ke-15 hingga awal abad
ke-20 M. Dalam rentang masa empat abad tersebut, telah berkuasa 35 orang sultan
dan sultanah.
4. Wilayah kekuasaan
Di masa kejayaannya, wilayah kerajaan Aceh Darussalam mencakup sebagian
pulau Sumatera, sebagian Semenanjung Malaya dan Pattani.
5. Struktur pemerintahan
Pada masa Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589) berkuasa, kerajaan
Aceh sudah memiliki undang-undang yang terangkum dalam kitab Kanun Syarak
Kerajaan Aceh. Undang-undang ini berbasis pada al-Quran dan hadits yang
mengikat seluruh rakyat dan bangsa Aceh. Di dalamnya, terkandung berbagai
aturan mengenai kehidupan bangsa Aceh, termasuk syarat-syarat pemilihan pegawai
kerajaan. Namun, fakta sejarah menunjukkan bahwa, walaupun Aceh telah memiliki
undang-undang, ternyata belum cukup untuk menjadikannya sebagai sebuah kerajaan
konstitusional.
Dalam struktur pemerintahan Aceh, sultan merupakan penguasa tertinggi yang
membawahi jabatan struktural lainnya. Di antara jabatan struktural lainnya
adalah uleebalang yang mengepalai unit pemerintahan nanggroe (negeri), panglima
sagoe (panglima sagi) yang memimpin unit pemerintahan Sagi, Kepala Mukim yang
menjadi pimpinan unit pemerintahan mukim yang terdiri dari beberapa gampong,
dan keuchiek atau geuchiek yang menjadi pimpinan pada unit pemerintahan gampong
(kampung). Jabatan struktural ini mengurus masalah keduniaan (sekuler).
Sedangkan pemimpin yang mengurus masalah keagamaan adalah tengku meunasah, imam
mukim, kadli dan para teungku.
6. Kehidupan Sosial Budaya
a. agama
Dalam sejarah nasional Indonesia, Aceh sering disebut sebagai Negeri
Serambi Mekah, karena Islam masuk pertama kali ke Indonesia melalui kawasan
paling barat pulau Sumatera ini. Sesuai dengan namanya, Serambi Mekah, orang
Aceh mayoritas beragama Islam dan kehidupan mereka sehari-hari sangat dipengaruhi
oleh ajaran Islam ini. Oleh sebab itu, para ulama merupakan salah satu sendi
kehidupan masyarakat Aceh. Selain dalam keluarga, pusat penyebaran dan
pendidikan agama Islam berlangsung di dayah dan rangkang (sekolah agama). Guru
yang memimpin pendidikan dan pengajaran di dayah disebut dengan teungku. Jika
ilmunya sudah cukup dalam, maka para teungku tersebut mendapat gelar baru
sebagai Teungku Chiek. Di kampung-kampung, urusan keagamaan masyarakat dipimpin
oleh seseorang yang disebut dengan tengku meunasah.
Pengaruh Islam yang sangat kuat juga tampak dalam aspek bahasa dan sastra
Aceh. Manuskrip-manuskrip terkenal peninggalan Islam di Nusantara banyak di
antaranya yang berasal dari Aceh, seperti Bustanussalatin dan Tibyan fi
Ma‘rifatil Adyan karangan Nuruddin ar-Raniri pada awal abad ke-17; kitab
Tarjuman al-Mustafid yang merupakan tafsir Al Quran Melayu pertama karya Shaikh
Abdurrauf Singkel tahun 1670-an; dan Tajussalatin karya Hamzah Fansuri.
Peninggalan manuskrip tersebut merupakan bukti bahwa, Aceh sangat berperan
dalam pembentukan tradisi intelektual Islam di Nusantara. Karya sastra lainnya,
seperti Hikayat Prang Sabi, Hikayat Malem Diwa, Syair Hamzah Fansuri, Hikayat
Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, merupakan bukti lain kuatnya pengaruh Islam
dalam kehidupan masyarakat Aceh.
b. Struktur sosial
Lapisan sosial masyarakat Aceh berbasis pada jabatan struktural, kualitas
keagamaan dan kepemilikan harta benda. Mereka yang menduduki jabatan struktural
di kerajaan menduduki lapisan sosial tersendiri, lapisan teratasnya adalah
sultan, dibawahnya ada para penguasa daerah. Sedangkan lapisan berbasis
keagamaan merupakan lapisan yang merujuk pada status dan peran yang dimainkan
oleh seseorang dalam kehidupan keagamaan. Dalam lapisan ini, juga terdapat
kelompok yang mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad. Mereka ini menempati
posisi istimewa dalam kehidupan sehari-hari, yang laki-laki bergelar Sayyed,
dan yang perempuan bergelar Syarifah. Lapisan sosial lainnya dan memegang
peranan sangat penting adalah para orang kaya yang menguasai perdagangan, saat
itu komoditasnya adalah rempah-rempah, dan yang terpenting adalah lada.
c. Kehidupan sehari-hari
Sebagai tempat tinggal sehari-hari, orang Aceh membangun rumah yang sering
disebut juga dengan rumoh Aceh. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, mereka
bercocok tanam di lahan yang memang tersedia luas di Aceh. Bagi yang tinggal di
kawasan kota pesisir, banyak juga yang berprofesi sebagai pedagang. Senjata
tradisional orang Aceh yang paling terkenal adalah rencong, bentuknya menyerupai
huruf L, dan bila dilihat dari dekat menyerupai tulisan kaligrafi bismillah.
Senjata khas lainnya adalah Sikin Panyang, Klewang dan Peudeung oon Teubee.